BANGKA – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Eko Sentosa, hadir di Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Citra Internasional (ICI) Bangka Belitung, Senin (14/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Eko memaparkan materi bertajuk “Etika Bermedia Sosial dan Pelindungan Data Pribadi di Era Society 5.0”, kepada 354 mahasiswa baru ICI Bangka Belitung.

Mengawali paparannya, Eko menjelaskan bahwa ruang digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, baik untuk kegiatan pembelajaran, organisasi, pekerjaan maupun membangun reputasi.

Oleh karenanya, lanjut dia, mahasiswa di era Society 5.0, tak hanya dituntut mengejar nilai dan prestasi akademik, akan tetapi juga perlu memiliki kecakapan digital, yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan teknologi semata.

“Mahasiswa harus melek teknologi, tapi juga harus beretika dalam memanfaatkanya. Karakter membuat kita tahu batas. Inovasi membuat kita menciptakan nilai. Literasi digital membuat keduanya aman dan berdampak,” kata Eko.

Lebih lanjut Eko meminta mahasiswa baru ICI Bangka Belitung untuk bijak dalam menggunakan sosial media. Menurut dia, setiap orang, termasuk mahasiswa, bebas berinteraksi di sosial media, namun harus diiringi dengan rasa tanggung jawab.

“Sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, hormati orang lain, bedakan fakta dan opini, jaga privasi, serta pahami konsekuensi yang muncul dari setiap konten yang dibagikan. Jejak digital itu tidak berhenti ketika sebuah unggahan dihapus, tapi juga berpengaruh terhadap hubungan sosial, reputasi, hingga kesempatan akademik dan profesional seseorang,” ujarnya.

Eko juga mengajak mahasiswa baru ICI Bangka Belitung menerapkan prinsip “Saring Sebelum Sharing”. Prinsip ini, kata dia, perlu diterapkan mengingat semakin pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang mampu memanipulasi gambar, suara, maupun video dengan mudah.

“Jangan lupa terapkan prinsip “Saring Sebelum Sharing”. Jadi, ketika menerima informasi, berhentilah sejenak, cek sumbernya, bandingkan informasi yang diterima dengan informasi yang beredar secara luas, pikirkan juga seperti apa dampaknya jika informasi yang kita terima, diteruskan ke khalayak,” pesannya.

Eko dalam kesempatan itu mengajak mahasiswa baru ICI Bangka Belitung terus membangun kebiasaan digital yang sehat, serta memperkuat perlindungan terhadap penggunaan dan distribusi data pribadi.

“Data pribadi itu ada banyak macamnya, bukan hanya NIK atau nomor telepon saja. Jika ada yang meminta kita untuk mengumpulkan KTP misalnya. Kita harus tahu apa tujuannya, siapa yang mengelolanya, pastikan juga kanal yang digunakan itu resmi atau tidak,” pesannya.

“Pertimbangkan juga seperti apa risikonya jika data itu tersebar. Jangan lupa, gunakan autentikasi ganda pada akun penting, pisahkan akun publik dan akun sensitif, cadangkan data penting, serta buat kata sandi yang unik,” sambungnya.

Pesan ini, kata Eko, sejalan dengan pandangan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, tentang arah transformasi digital, yang tidak semata-mata berbicara tentang kecanggihan teknologi.

“Transformasi digital bukan sekadar soal kemajuan teknologi. Yang terpenting, bagaimana teknologi benar-benar memberikan kemudahan, transparansi dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.